Alam antara Rahmat dan Bencana: Pesan Ibnu Qayyim dan Jalan Kesadaran Kolaborasi Hijau
Gema Bela Negara || Dalam Islam, alam bukanlah objek mati yang boleh diperlakukan sesuka hati, melainkan amanah Ilahi yang harus dijaga. Ulama besar abad ke-7 Hijriah, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, dalam Miftahu Sa‘adah menegaskan bahwa alam memiliki dua fungsi terhadap manusia: sebagai rahmat dan sebagai bencana. Fungsi itu sepenuhnya bergantung pada sikap manusia dalam mengelola dan merawatnya.
Ketika manusia memelihara alam dengan adil, alam hadir sebagai rahmat. Air mengalir memberi kehidupan, tanah subur untuk ditanami, pepohonan menjadi pelindung, dan angin berhembus sejuk. Namun ketika manusia bersikap angkuh, serakah, dan merasa berkuasa penuh atas alam, maka rahmat itu perlahan berubah menjadi peringatan bahkan bencana.
Arogansi Manusia dan Hilangnya Kesadaran Amanah
Ibnu Qayyim mengingatkan bahwa arogansi manusia di hadapan alam adalah awal dari kerusakan. Manusia merasa besar karena teknologi dan kekuasaan, lalu lupa bahwa dirinya hanyalah khalifah, bukan pemilik bumi. Akibatnya, hutan ditebang tanpa pemulihan, tanah dikeruk tanpa perawatan, dan air dirusak tanpa tanggung jawab.
Allah SWT berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.”
(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini menjadi cermin bahwa bencana ekologis adalah teguran, agar manusia kembali pada jalan amanah dan keseimbangan.
Penghijauan sebagai Jalan Taubat Ekologis
Dalam konteks inilah, gerakan penghijauan dan pemeliharaan lingkungan bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan amal ibadah dan bentuk taubat ekologis. Menanam pohon berarti mengembalikan fungsi rahmat alam. Merawat dan memelihara pohon adalah bukti kesungguhan iman, bukan sekadar simbol atau seremoni.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menabur benih, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan menjadi sedekah baginya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa menanam dan merawat pohon adalah amal jariyah, yang pahalanya terus mengalir selama memberi manfaat.
Kolaborasi Hijau: Merawat Rahmat, Mencegah Bencana
Gerakan Kolaborasi Hijau hadir sebagai wujud kesadaran bahwa menjaga alam tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Ia membutuhkan kolaborasi lintas elemen masyarakat, kesabaran, dan konsistensi. Penghijauan reguler, pemeliharaan pohon, serta edukasi lingkungan yang dilakukan merupakan ikhtiar nyata agar alam tetap berada dalam fungsi rahmatnya, bukan berubah menjadi sumber bencana.
Sejalan dengan pesan Ibnu Qayyim, Kolaborasi Hijau mengajarkan bahwa merawat alam adalah bentuk kerendahan hati manusia di hadapan ciptaan Allah. Bukan menaklukkan, tetapi menjaga. Bukan menguasai, tetapi mengabdi.
Menanam Hari Ini, Menuai Keselamatan Esok Hari
Banjir, longsor, dan kekeringan bukan sekadar peristiwa alam, melainkan akibat dari putusnya hubungan spiritual manusia dengan alam. Dengan menanam pohon dan merawatnya, manusia sedang membangun kembali hubungan itu hubungan antara iman, amal, dan keberlanjutan hidup.
Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”
(QS. Al-A‘raf: 56)
Menjaga Alam Sebagai Bukti Iman
Pesan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengingatkan kita bahwa alam akan selalu jujur membalas perlakuan manusia. Jika dirawat, ia menjadi rahmat. Jika dizalimi, ia berubah menjadi bencana. Melalui gerakan penghijauan dan Kolaborasi Hijau, umat Islam diajak untuk kembali pada jati dirinya sebagai khalifah yang amanah.
Menanam pohon hari ini bukan hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga menyelamatkan nilai kemanusiaan dan keimanan kita sendiri. Inilah jalan agar alam tetap menjadi rahmat, bukan peringatan yang menyakitkan.
Ditulis Oleh:
Cepi Gantina