Aksi Kolaborasi Hijau ke-92 Tegaskan: Menanam Pohon Saja Tidak Cukup, Pohon Harus Dipastikan Hidup
Gema Bela Negara, Garut || Di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim, berkurangnya tutupan hutan, serta menurunnya kualitas kawasan resapan air di berbagai wilayah, Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut dan Relawan Nurfa Peduli kembali menegaskan bahwa gerakan penghijauan tidak boleh berhenti pada seremoni penanaman. Pesan tersebut menjadi semangat utama dalam Aksi Kolaborasi Hijau ke-92 yang digelar di Blok Pasir Jawa dan Sumber Mata Air Cikahuripan, kawasan kaki Gunung Cikuray, Desa Barusuda, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut. Rabu (5/8/2026)

Dengan melibatkan mahasiswa KKNT IPB University, Universitas Padjadjaran (UNPAD), Pemerintah Desa Barusuda, Penggarap, Tokoh Masyarakat, serta masyarakat setempat.
Kegiatan ini mengusung pendekatan konservasi yang lebih komprehensif. Di Blok Pasir Jawa, peserta melaksanakan penanaman bibit alpukat dan manglid sebagai upaya rehabilitasi lahan sekaligus memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat. Sementara itu, di Kampung Cikahuripan, peserta melakukan penanaman pohon beringin dan loa, dua jenis pohon konservasi yang memiliki fungsi penting dalam memperkuat daerah resapan air, menjaga kestabilan lereng, dan mendukung keberlanjutan ekosistem hulu.
Yang membedakan aksi ini dari kegiatan penghijauan pada umumnya adalah dilaksanakannya monitoring dan geotagging terhadap pohon-pohon yang telah ditanam pada aksi sebelumnya. Setiap pohon dipantau melalui titik koordinat untuk memastikan tingkat kelangsungan hidupnya sehingga gerakan penghijauan tidak berhenti pada penanaman, tetapi berlanjut hingga pohon benar-benar tumbuh dan memberi manfaat bagi lingkungan.
Ketua Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, H. Jaeni, menegaskan bahwa tantangan terbesar gerakan lingkungan saat ini bukan lagi mengajak masyarakat menanam pohon, melainkan membangun komitmen untuk merawatnya.
“Kita terlalu sering bangga dengan jumlah bibit yang ditanam, tetapi lupa menghitung berapa yang benar-benar bertahan hidup. Filosofi kami sederhana, satu pohon yang tumbuh hingga besar jauh lebih bernilai daripada ribuan bibit yang hanya menjadi angka dalam laporan. Karena itu, monitoring dan geotagging adalah bentuk tanggung jawab moral kami kepada alam dan kepada generasi yang akan datang,” bebernya.
Menurut H. Jaeni, kawasan hulu Gunung Cikuray merupakan benteng kehidupan yang harus dijaga bersama karena menjadi salah satu penyangga tata air bagi wilayah di sekitarnya. Kerusakan kawasan hulu bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman terhadap ketahanan air, pangan, dan keselamatan masyarakat.
Arif, salah seorang tokoh pemuda yang aktif di Relawan Nurfa Peduli mengatakan bahwa penyelamatan lingkungan tidak akan berhasil apabila hanya mengandalkan satu pihak.
“Kerusakan lingkungan tidak mengenal batas administrasi, sehingga penyelesaiannya pun harus dilakukan secara kolaboratif. Ketika masyarakat, komunitas, pemerintah, dunia pendidikan, dan lembaga sosial berjalan bersama, kita sedang membangun fondasi konservasi yang lebih kuat, berkelanjutan, dan berdampak nyata bagi kehidupan,” ucap Arif.
Sementara itu, Sekretaris Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut yang juga Pengurus Yayasan Gema Bela Negara, Cepi Gantina, menilai bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari penguatan karakter kebangsaan dan implementasi nyata nilai-nilai bela negara.
“Bela negara hari ini tidak hanya diwujudkan dengan menjaga kedaulatan wilayah, tetapi juga dengan menjaga sumber-sumber kehidupan. Hutan yang lestari, mata air yang tetap mengalir, dan lingkungan yang sehat adalah bagian dari kekuatan bangsa. Menanam, merawat, dan memastikan pohon tetap hidup merupakan bentuk bela negara yang bisa dilakukan oleh setiap warga,” ucapnya.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan mahasiswa yang turun langsung ke lapangan.
“Kami ingin melahirkan generasi yang bukan hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan tanggung jawab ekologis. Ketika mahasiswa berjalan menyusuri lereng gunung, menanam pohon, melakukan monitoring, hingga geotagging, mereka sedang belajar bahwa kepemimpinan sejati dimulai dari keberanian merawat kehidupan,” pungkasnya.
Di sisi lain, Ijang, Sekretaris Desa Barusuda menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut dan berharap kolaborasi serupa dapat terus berlanjut.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah hadir dan bekerja bersama masyarakat. Kegiatan ini bukan hanya menambah jumlah pohon, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa menjaga kawasan hulu adalah tanggung jawab bersama. Semoga sinergi ini terus berlanjut demi terjaganya mata air, hutan, dan masa depan lingkungan di wilayah kami,” ungkapnya.
Melalui Aksi Kolaborasi Hijau ke-92, Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut kembali menegaskan bahwa ukuran keberhasilan konservasi bukanlah banyaknya bibit yang ditanam atau besarnya seremoni yang digelar. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika pohon-pohon yang ditanam tumbuh menjadi hutan, menjaga mata air tetap mengalir, mengurangi risiko bencana, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta generasi mendatang.
Mengusung semangat “Hijrah untuk Alam, Aksi untuk Kehidupan”, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan hari ini adalah investasi bagi masa depan. Sebab, alam tidak membutuhkan janji, melainkan aksi yang konsisten, kolaborasi yang berkelanjutan, dan komitmen untuk merawat kehidupan.