Mahasiswa KKN ITG Tinggalkan Warisan Ekologis di Gunung Congkrang, Tanam Pohon di Kawasan Sumber Air

August 9, 2026 • Artikel, Garut, Jawa Barat, Lingkungan, Mahasiswa, Mereka

Gema Bela Negara, Garut || Pengabdian mahasiswa tidak selalu harus meninggalkan bangunan atau fasilitas fisik. Di Gunung Congkrang, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Teknologi Garut (ITG) memilih meninggalkan sesuatu yang diharapkan tumbuh dan memberi manfaat dalam jangka panjang: pohon dan kepedulian terhadap lingkungan.

Semangat tersebut diwujudkan melalui Aksi Kolaborasi Hijau ke-93 yang digelar bersama Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut di kawasan Gunung Congkrang, Sabtu (8/8/2026).

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN ITG bersama tim Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut melakukan/penanaman pohon manglid dan ganitri di sekitar salah satu lokasi sumber air yang berada di kawasan Gunung Congkrang.

Kegiatan tidak berhenti setelah bibit ditanam. Para peserta kemudian melanjutkan dengan pemeliharaan pohon, mulai dari memastikan kondisi tanaman hingga melakukan perawatan terhadap tanaman yang telah ditanam sebelumnya.

Langkah tersebut menjadi pesan penting dalam gerakan penghijauan: menanam bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah tanggung jawab.

Ketua Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, H. Jaeni, yang memimpin langsung kegiatan, mengatakan bahwa keberhasilan sebuah gerakan penghijauan tidak dapat hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam.

“Menanam itu mudah, tetapi memastikan tanaman bisa tumbuh membutuhkan komitmen. Karena itu, setiap kegiatan penanaman harus diikuti dengan pemeliharaan. Pohon yang kita tanam hari ini adalah investasi untuk lingkungan dan generasi yang akan datang,” ujar H. Jaeni.

Menurut H. Jaeni, keterlibatan mahasiswa dalam aksi konservasi merupakan bentuk kolaborasi yang memiliki nilai strategis. Mahasiswa membawa pengetahuan dan energi generasi muda, sementara masyarakat dan komunitas memberikan pengalaman serta pengetahuan lapangan mengenai kondisi lingkungan setempat.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu melahirkan kesadaran bahwa persoalan lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau komunitas lingkungan, tetapi menjadi tanggung jawab bersama.

Pemilihan lokasi penanaman di sekitar sumber air juga memiliki makna ekologis yang penting.

Vegetasi di kawasan sumber air berperan dalam menjaga kondisi tanah dan kelembapan, membantu mengurangi potensi erosi, serta mendukung fungsi kawasan dalam menjaga tata air.

Karena itu, keberadaan pohon manglid dan gantri yang ditanam dalam kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk memperkuat fungsi ekologis kawasan Gunung Congkrang.

Bagi mahasiswa KKN ITG, kegiatan ini sekaligus menjadi ruang belajar di luar kampus. Mereka tidak hanya melihat persoalan lingkungan secara teoritis, tetapi berhadapan langsung dengan tantangan menjaga tanaman dan ekosistem di lapangan.

“Alam adalah ruang belajar yang tidak pernah selesai. Di sini mahasiswa belajar bahwa satu bibit membutuhkan waktu, perhatian, dan kesabaran untuk menjadi pohon. Begitu pula dengan menjaga lingkungan, tidak bisa dilakukan secara instan,” demikian semangat yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.

Aksi Kolaborasi Hijau ke-83 menjadi bagian dari rangkaian gerakan Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut dalam membangun budaya konservasi melalui aksi nyata dan kolaborasi lintas kelompok.

Kehadiran mahasiswa KKN ITG memperkuat pesan bahwa generasi muda dapat mengambil peran langsung dalam menjawab tantangan lingkungan di tingkat lokal.

Sebab, ketika masa KKN berakhir dan mahasiswa meninggalkan Gunung Congkrang, pohon-pohon yang mereka tanam tetap berada di sana.

Bibit-bibit itu akan terus tumbuh, jika dirawat dan suatu hari nanti, ketika pohon-pohon tersebut telah menjadi bagian dari tegakan hutan, jejak mahasiswa yang pernah menanamnya mungkin tidak lagi terlihat.

Namun manfaatnya akan tetap ada, untuk tanah, air, udara, keanekaragaman hayati, dan generasi yang akan datang. Inilah esensi dari pengabdian yang berkelanjutan: Tidak sekadar datang. Tidak sekadar menanam.
Tetapi meninggalkan sesuatu yang terus tumbuh. (Cepi Gantina)