Sambut Hari Kemerdekaan, Aksi Kolaborasi Hijau ke-95 di Gunung Congkrang: Bersama Mahasiswa KKN ITG, Merawat Tanaman sebagai Wujud Bela Negara
Gema Bela Negara, GARUT || Semangat bela negara tidak selalu diwujudkan melalui kegiatan yang bersifat formal. Menjaga lingkungan, merawat hutan, melindungi sumber air dan memastikan tanaman tetap hidup juga merupakan bentuk pengabdian nyata kepada bangsa.
Semangat tersebut kembali diwujudkan Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut melalui Aksi Kolaborasi Hijau ke-95 di Blok Gunung Congkrang. Pada aksi kali ini, Kolaborasi Hijau berkolaborasi bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) ITG dengan agenda pemeliharaan tanaman melalui penyiraman, sebagai respons terhadap kondisi musim kemarau.
Keterlibatan mahasiswa KKN ITG memberikan warna tersendiri dalam aksi konservasi tersebut. Mahasiswa tidak hanya hadir sebagai bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga terlibat langsung dalam upaya menjaga keberlangsungan tanaman yang telah ditanam.
Kondisi musim kemarau dengan curah hujan yang menurun membuat sejumlah tanaman membutuhkan perhatian dan pemeliharaan lebih intensif. Penyiraman dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan air tanaman sekaligus menjaga kelembapan tanah agar tanaman dapat bertahan dan terus tumbuh.
Sekretaris Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, yang juga sebagai pengurus Gema Bela Negara Cepi Gantina, menegaskan bahwa menanam pohon harus diikuti dengan tanggung jawab untuk merawatnya.
“Menanam adalah awal dari sebuah proses. Ketika musim kemarau datang, tanaman membutuhkan kita. Merawat dan memastikan tanaman tetap hidup adalah bagian dari tanggung jawab bersama. Kehadiran mahasiswa KKN ITG dalam aksi ini menunjukkan bahwa semangat kepedulian terhadap lingkungan dapat dibangun melalui kolaborasi lintas generasi,” ujarnya.
Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan memiliki hubungan erat dengan semangat bela negara. Alam yang terjaga akan memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat, mulai dari menjaga tata air, mengurangi risiko degradasi lahan hingga mendukung keberlanjutan sumber pangan.
Karena itu, aksi pemeliharaan di Gunung Congkrang bukan sekadar kegiatan menyiram tanaman. Di dalamnya terdapat nilai gotong royong, kepedulian, kedisiplinan dan kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
Sementara H Jaeni, Ketua Paguyuban Kolaborasi Hijau menyampaikan bahwa keberhasilan gerakan penghijauan tidak cukup diukur dari jumlah bibit yang ditanam.
“Indikator keberhasilan penghijauan bukan hanya berapa banyak pohon yang ditanam, tetapi berapa banyak yang mampu bertahan dan tumbuh. Karena itu, pemeliharaan menjadi bagian penting dari seluruh rangkaian konservasi. Kolaborasi dengan mahasiswa KKN ITG juga menjadi ruang edukasi bagi generasi muda untuk memahami bahwa menjaga lingkungan membutuhkan konsistensi,” katanya.
Kehadiran mahasiswa KKN ITG bersama Kolaborasi Hijau menunjukkan bahwa semangat bela negara dapat diwujudkan melalui aksi sederhana yang memberikan manfaat langsung bagi lingkungan.
Di tengah momentum menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2026, kegiatan tersebut menjadi salah satu cara mengisi kemerdekaan dengan kerja nyata, gotong royong dan kepedulian terhadap masa depan bangsa.
Dari Gunung Congkrang, Kolaborasi Hijau bersama mahasiswa KKN ITG membawa pesan bahwa bela negara dapat dimulai dari merawat lingkungan di sekitar kita.
Merawat pohon adalah merawat kehidupan. Menjaga lingkungan adalah menjaga masa depan. Dan ketika kepedulian dilakukan bersama, aksi kecil dapat menjadi gerakan yang lebih besar.
Dari Tanam Menjadi Tumbuh, Dari Aksi Menjadi Tradisi.
Ditulis oleh
Jajang Nurjaman