Dari Akar Kepedulian Menuju Gerakan Besar: Perjalanan Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut Menjaga Bumi
Gema Bela Negara, Garut || Di tengah meningkatnya tekanan terhadap lingkungan, lahir sebuah gerakan sederhana namun penuh makna di kaki perbukitan Garut. Berawal dari kegelisahan melihat lahan yang kian kritis, gersang, dan kehilangan fungsi ekologisnya, tokoh masyarakat di Kampung Ciarileu, Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, bersama LSM, Ormas, Pegiat Lingkungan, dan Pegiat Media pada 02 November 2024, memulai langkah kecil yang kini menjelma menjadi gerakan besar “Kolaborasi Hijau”.

Menanam Harapan dari Tanah yang Kritis
Kolaborasi Hijau bukan sekadar kegiatan menanam pohon. Ia adalah perwujudan filosofi kebersamaan, bahwa alam hanya bisa dijaga jika manusia mau bergandengan tangan. Digagas oleh Forum Peduli Cikajang (FPC) dan Forum Peduli Lingkungan Masyarakat Ciarileu (FPLMC), gerakan ini tumbuh dari kesadaran kolektif bahwa kerusakan lingkungan bukanlah tanggung jawab satu pihak, melainkan panggilan bersama.
Dengan izin pengelolaan lahan HGU PTPN 1 Regional 2 Kebun Cisaruni, ratusan bibit pertama ditanam di Blok Gunung Congkrang. Namun mereka sadar, menanam hanyalah awal, merawat adalah kunci keberlanjutan.
Kolaborasi yang Menghidupkan
Sejak saat itu, setiap seminggu minggu sekali, para relawan dari berbagai latar belakang, petani, pelajar, tokoh masyarakat, hingga unsur pemerintah, turun langsung ke lapangan. Kegiatan ini bukan hanya tentang teknis penghijauan, tetapi juga membangun kesadaran dan memperkuat ikatan sosial.
Hingga kini, gerakan ini telah berjalan puluhan kali dan berhasil menanam hampir 15000 bibit pohon. Beragam jenis pohon hutan seperti Beringin, Puspa, Rasamala, Ki Huru Manglid, Suren, Mahoni, Trembesi, dan yang lainnya. Hingga tanaman produktif seperti Kopi, Alpukat, Nangka, Durian, Mangga, Sukun, dan Jambu Air tumbuh sebagai simbol kehidupan baru. Setiap batang yang berdiri adalah saksi bahwa kolaborasi mampu melahirkan perubahan nyata.
Dari Komunitas ke Paguyuban Resmi
Perjalanan waktu membawa Kolaborasi Hijau pada fase yang lebih matang. Tepat di usia genap satu tahun, gerakan ini bertransformasi menjadi Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, sebuah organisasi dengan legalitas resmi berbadan hukum perkumpulan.
Transformasi ini menjadi tonggak penting untuk memperluas gerakan, memperkuat kelembagaan, serta membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan berbagai pihak.
Dua Tahun Perjalanan: Tumbuh dari Swadaya
Kini, perjalanan itu telah memasuki tahun kedua. Sebuah fase yang membuktikan bahwa gerakan ini tidak hanya bertahan, tetapi juga semakin kuat dan mengakar.
Yang menarik, seluruh program kegiatan Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut dijalankan secara swadaya. Tidak bergantung pada sumber besar, tetapi tumbuh dari kepedulian kecil yang dikumpulkan bersama. Dari sinilah lahir kekuatan sejati: gerakan yang mandiri, tulus, dan berkelanjutan.
Salah satu pilar utama dalam perjalanan ini adalah program Sedekah Oksigen, yang pertama kali digulirkan pada bulan Ramadhan tahun 2024. Program ini menjadi wadah bagi siapa saja untuk berkontribusi dalam bentuk donasi bibit pohon, yang kemudian ditanam di berbagai lokasi penghijauan.
Hingga hari ini, Sedekah Oksigen terus berjalan dan menjadi ruh gerakan swadaya Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut. Ia bukan hanya program, tetapi juga simbol kepedulian kolektif, bahwa setiap orang bisa ikut “bersedekah” untuk bumi, bahkan hanya dengan satu pohon.
Menjangkau Lebih Luas, Mengakar Lebih Dalam
Memasuki babak baru, Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut tidak lagi bergerak di satu titik saja. Penghijauan kini dilakukan di berbagai wilayah dengan tingkat kerusakan lingkungan yang beragam.
Gerakan ini aktif menyasar beberapa titik di lahan HGU PTPN yang telah beralih fungsi, lahan milik warga di dataran tinggi dengan kondisi curam, kawasan pegunungan seperti Gunung Cikuray dan Gunung Papandayan, serta rencana ekspansi ke bentangan Gunung Mandalagiri.
Tak hanya di Kecamatan Cikajang, kegiatan penghijauan juga telah meluas ke berbagai wilayah lain. Di kaki Gunung Papandayan, Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut berkolaborasi dengan Kelompok Tani Hutan (KTH) Nangklak. Di wilayah Kecamatan Cilawu, tepatnya di Dayeuh Manggung, gerakan ini bersinergi bersama Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Garut. Kemudian di wilayah Kecamatan Cigedug, berkolaborasi dengan Pondok Pesantren dan komunitas lingkungan, tepatnya di Kaki Gunung Cikuray, di sumber mata air Cikahuripan.
Menjadi Magnet Kolaborasi Lintas Komunitas
Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut terus tumbuh sebagai ruang kolaborasi yang inklusif.
Kegiatan edukatif bersama anak-anak dari berbagai Sekolah Dasar di Cikajang menjadi langkah penting dalam menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini. Anak-anak diajak mengenal alam secara langsung, belajar menanam, dan memahami pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.
Kolaborasi juga terjalin dengan komunitas off-road KANIBAL, yang turut ambil bagian dalam kegiatan penanaman di medan ekstrem. Ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak mengenal batas latar belakang.
Di sisi lain, kalangan akademisi juga aktif terlibat. Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi seperti UNPAD, ITB, IPB, POLBAN, UIN, UNWIM, dan lainnya menjadikan Kolaborasi Hijau sebagai ruang belajar dan pengabdian. Bahkan, pernah terselenggara aksi besar yang melibatkan 12 paguyuban mahasiswa asal Garut dari 12 perguruan tinggi dalam satu kegiatan penanaman bersama.
Lebih dari Sekadar Menanam
Kolaborasi Hijau bukan hanya tentang pohon, tetapi tentang nilai kehidupan. Tentang gotong royong, kepedulian, dan kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari alam, bukan penguasa atasnya.
Di setiap kegiatan, yang tumbuh bukan hanya pohon, tetapi juga harapan, persaudaraan, dan tanggung jawab bersama.
Menanam Hari Ini, Menjaga Masa Depan
Perjalanan Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut adalah bukti bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama. Dari Gunung Congkrang hingga berbagai penjuru Garut, dari swadaya hingga kolaborasi lintas komunitas, semua bergerak dalam satu tujuan yaitu menjaga bumi.
Gerakan ini mengajarkan satu hal penting:
menanam pohon adalah menanam kehidupan, dan kolaborasi adalah cara terbaik untuk menjaganya tetap tumbuh.
Mari ikut menjadi bagian dari gerakan ini. Karena bumi tidak butuh kita yang sempurna, ia hanya butuh kita yang mau bergerak bersama.
“Bersama, Kita Bisa Menjaga Bumi untuk Generasi Mendatang.”
Ditulis oleh:
Cepi Gantina