Sarapan Gratis, Donor Darah, hingga Operasi Semut: Gema Bela Negara dan Gerakan Dapur Indonesia Buktikan Bela Negara Tak Cukup dengan Slogan

June 8, 2026 • Artikel, DKI Jakarta

Gema Bela Negara, Jakarta || Di tengah maraknya pemaknaan bela negara yang kerap identik dengan upacara, seremonial, atau retorika kebangsaan, Gema Bela Negara (GBN) justru memilih pendekatan yang lebih membumi. Melalui kegiatan “GBN Breakfast Jakarta Bersih” yang digelar saat Car Free Day (CFD), Minggu (7/6/2026), ribuan warga diajak memahami bahwa mencintai Indonesia dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana namun berdampak nyata.

Bertempat di halaman depan Kantor Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta Pusat, kegiatan ini menyedot perhatian sekitar 6.000 peserta yang memadati kawasan CFD Sudirman–Senayan. Hadir pula Menteri Koordinator Bidang Pangan, Dr. Zulkifli Hasan, bersama sejumlah tokoh nasional, pejabat kementerian, komunitas, serta relawan dari berbagai daerah.

Foto. Pengunjung yang sedang ngantri sarapan gratis

Namun yang menarik, acara ini tidak sekadar menjadi panggung hiburan rakyat. Di balik kemeriahan senam bersama, atraksi bela diri, dan pertunjukan seni budaya Nusantara, tersimpan pesan yang lebih dalam: bela negara harus hadir dalam kehidupan sehari-hari dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Sekretaris Jenderal Gema Bela Negara sekaligus Ketua Panitia, Heikal Safar, menegaskan bahwa tantangan bangsa saat ini tidak cukup dijawab dengan semangat patriotisme dalam kata-kata.

“Hari ini ancaman bangsa bukan hanya soal pertahanan, tetapi juga ketahanan pangan, kepedulian sosial, kesehatan masyarakat, hingga kerusakan lingkungan. Karena itu bela negara harus diwujudkan dalam aksi nyata yang bisa dirasakan rakyat,” ujarnya.

Foto. Kegiatan Donor Darah

Melalui kegiatan ini, GBN menggandeng Gerakan Dapur Indonesia (GDI) menghadirkan sarapan gratis yang disiapkan oleh pelaku UMKM dan pedagang kecil. Langkah ini dinilai bukan sekadar berbagi makanan, tetapi juga bentuk dukungan terhadap ekonomi kerakyatan.

Selain itu, kegiatan donor darah menjadi simbol kepedulian kemanusiaan, sementara pembagian bibit pohon dan pupuk kompos kepada masyarakat menjadi pesan bahwa menjaga lingkungan juga merupakan bagian dari membela bangsa.

Ketua Umum Gema Bela Negara, R. Achmat Juniawan, menilai bahwa cinta tanah air tidak cukup diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan yang memberi manfaat bagi sesama dan lingkungan.

“Bangsa yang kuat lahir dari masyarakat yang sehat, peduli sesama, mencintai lingkungannya, dan menghargai budayanya. Karena itu kami ingin menunjukkan bahwa bela negara bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan bersama,” katanya.

Salah satu momen yang paling mendapat apresiasi adalah Operasi Semut, yakni aksi pungut sampah yang dilakukan peserta setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai. Saat banyak kegiatan publik meninggalkan tumpukan sampah, peserta GBN justru memastikan area acara tetap bersih.

Menurut Heikal Safar, inilah bentuk pendidikan karakter yang sesungguhnya.

“Kami ingin meninggalkan teladan, bukan hanya keramaian. Jika datang ke suatu tempat lalu pulang dalam keadaan lebih bersih daripada sebelumnya, itu adalah bentuk tanggung jawab sebagai warga negara,” tegasnya.

Kegiatan yang mengusung semangat “Sarapan Bersama, Hidup Sehat, Lingkungan Bersih” ini juga menampilkan atraksi bela diri Kempo, senam Zumba dan Cardio Dance, donor darah, pembagian bibit pohon, pertunjukan seni budaya Nusantara, serta hiburan rakyat yang melibatkan berbagai komunitas.

Sementara Ketua Umum Gerakan Dapur Indonesia (GDI), Ibu Nofalia, menegaskan bahwa bela negara tidak selalu harus dimaknai secara kaku. Menurutnya, sinergi GDI dan Gema Bela Negara merupakan bentuk pembinaan masyarakat melalui penguatan ekonomi kerakyatan.

“Bela negara bisa diwujudkan melalui aksi nyata yang menyentuh kehidupan rakyat. Program Sarapan Pagi Gratis yang melibatkan UMKM dan pedagang kecil bukan hanya berbagi makanan, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat. Ketika usaha kecil tumbuh dan masyarakat saling peduli, itulah wujud nyata cinta tanah air,” ujar Nofalia.

Ia berharap kolaborasi ini dapat terus mendorong semangat gotong royong, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat sebagai bagian dari implementasi nilai-nilai bela negara di era modern.

Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Sekjen Kemendikdasmen Ir. Suharti, M.A., Ph.D., Sestama BGN Brigjen TNI (Purn) Sarwono, Direktur Bela Negara Kemhan RI, para pembina GBN seperti Mayjen TNI Mirza Patria, Dr. Qudrat Nugraha, dan Dr. Wawan Purwanto, serta ribuan anggota dan penggiat bela negara dari berbagai daerah.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa di era modern, bela negara tidak selalu berbentuk barisan dan komando. Terkadang, ia hadir dalam bentuk yang lebih sederhana berbagi sarapan, menyumbangkan darah, menanam pohon, menjaga kebersihan, dan menghidupkan semangat gotong royong di tengah masyarakat. Sebab pada akhirnya, bangsa yang kuat bukan hanya dibangun oleh mereka yang pandai berbicara tentang Indonesia, tetapi oleh mereka yang mau bekerja nyata untuk Indonesia.