Menanam Pohon sebagai Ibadah Sosial: Ekoteologi Menjawab Krisis Lingkungan dari Lereng Cikajang, Garut
Gema Bela Negara, Garut || Di saat kerusakan lingkungan semakin nyata, banyak orang masih memandang pelestarian alam sebagai urusan aktivis lingkungan semata. Padahal, bagi masyarakat yang memahami nilai-nilai spiritual, menjaga alam sesungguhnya merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan. Semangat itulah yang tercermin dalam kegiatan penanaman pohon dalam rangka tahun baru 1448 Hijriah. Dengan mengusung btema “Hijrah untuk Alam, Aksi untuk Kehidupan” yang dilaksanakan di Bukit Cinta Kembar, Desa Mekarjaya, dan Hutan Edukasi Kolaborasi Hijau di belakang Saung Guyub Kolaborasi Hijau, Kampung Ciarileu, Desa Girijaya, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut. Sabtu (20/6/2026)
Diikuti oleh lebih dari 30 peserta yang terdiri dari tokoh masyarakat, pemuda, relawan lingkungan, perempuan, dan pelajar, kegiatan ini tidak sekadar menanam Beringin, Eucalyptus Rainbow (Eukaliptus Pelangi) dan Ganitri, tetapi juga menanam kesadaran bahwa hubungan manusia dengan alam tidak dapat dipisahkan dari hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Selama ini banjir, longsor, berkurangnya debit mata air, dan kerusakan kawasan hulu sering dianggap sebagai persoalan teknis. Namun sesungguhnya akar masalahnya jauh lebih dalam, yaitu krisis moral dan krisis kepedulian.
Manusia mengambil dari alam tanpa batas, tetapi lupa mengembalikan. Menebang lebih cepat daripada menanam. Memanfaatkan lebih banyak daripada merawat.
Dalam perspektif ekoteologi, alam bukan sekadar objek ekonomi, melainkan amanah yang harus dijaga. Gunung, hutan, sungai, tanah, dan seluruh kehidupan merupakan bagian dari sistem ciptaan yang saling terhubung. Ketika manusia merusak satu bagian, maka dampaknya akan dirasakan oleh seluruh kehidupan.
Karena itu, penulis memaknai bahwa penanaman pohon pada kegiatan ini menjadi simbol penting bahwa menjaga bumi bukan hanya tindakan ekologis, tetapi juga bentuk penghambaan kepada Tuhan melalui perawatan terhadap ciptaan-Nya.
Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah kesenjangan antara kesadaran dan tindakan. Banyak orang memahami pentingnya menjaga lingkungan, tetapi sedikit yang benar-benar terlibat langsung dalam pemulihannya.
Melalui kegiatan ini, peserta menunjukkan bahwa kepedulian tidak cukup diwujudkan dalam slogan, seminar, atau unggahan media sosial. Kepedulian harus hadir dalam bentuk aksi nyata, meskipun sederhana, seperti menanam dan merawat pohon.
Setiap bibit beringin, Ganitri dan Eukaliptus Rainbow yang ditanam di lereng-lereng kawasan Bukit Cinta Kembar dan Hutan Edukasi Kolaborasi Hijau merupakan investasi ekologis jangka panjang. Pohon-pohon itu kelak membantu menjaga tanah tetap stabil, meningkatkan resapan air, memperbaiki kualitas udara, serta menjadi warisan bagi generasi mendatang.
Tema “Hijrah untuk Alam, Aksi untuk Kehidupan” dipilih bukan tanpa alasan. Hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat, tetapi perpindahan cara pandang.
Hijrah dari sikap abai menjadi peduli. Hijrah dari eksploitasi menuju konservasi. Hijrah dari hanya menikmati hasil alam menuju ikut bertanggung jawab menjaga keberlanjutannya.
Dalam konteks itulah, penanaman pohon menjadi bentuk hijrah ekologis yang sangat relevan dengan tantangan zaman.
Di tengah berbagai persoalan lingkungan yang terus membayangi masa depan, kegiatan ini membawa pesan kuat bahwa perubahan tidak harus menunggu kebijakan besar atau proyek bernilai miliaran rupiah. Perubahan dapat dimulai dari satu bibit, satu lubang tanam, dan satu langkah kepedulian.
Karena sesungguhnya yang sedang ditanam hari ini bukan hanya pohon. Yang ditanam adalah harapan agar mata air tetap mengalir. Yang ditanam adalah masa depan agar tanah tetap subur. Yang ditanam adalah kesadaran bahwa manusia dan alam harus tumbuh bersama.
Sebagaimana pesan yang digaungkan dalam kegiatan tersebut:
“Jika tahun berganti tetapi kepedulian tak bertambah, maka waktu hanya berlalu. Namun jika kepedulian tumbuh dan aksi terus berlanjut, setiap tahun akan menghadirkan keberkahan bagi manusia dan alam.”
Melalui gerakan ini, Kolaborasi Hijau bersama Jamaah Masjid Baiturrahmah Kiaracondong, Kota Bandung ingin menegaskan bahwa penyelamatan lingkungan bukan sekadar agenda konservasi, melainkan gerakan peradaban. Sebab ketika manusia merawat bumi, pada hakikatnya manusia sedang merawat kehidupan itu sendiri.
Ditulis oleh
Cepi Gantina