Kolaborasi Hijau Garut Dorong Transformasi Petani: Dari Menjaga Tegakan, Menghasilkan Kopi Berkualitas

August 10, 2026 • Artikel, Berita, Garut, Jawa Barat, Lingkungan, Mereka

Gema Bela Negara, Garut || Bagi Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, menjaga hutan tidak cukup hanya dengan menanam pohon. Masyarakat yang hidup dan beraktivitas di sekitar kawasan hutan juga harus memiliki pengetahuan, keterampilan, serta pilihan ekonomi yang berkelanjutan.

Prinsip tersebut kembali diwujudkan Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut melalui sinergi program bersama Kelompok Tani Kopi Cikuray dan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Bandung Barat dalam Pelatihan Vokasi Kejuruan Kehutanan Penerapan Agroforestri Berbasis Tanaman Kopi.

Pelatihan yang berlangsung 3–7 Agustus 2026 dengan total 40 jam pembelajaran tersebut diikuti 16 peserta. Kegiatan pembukaan dilaksanakan pada Senin, 3 Agustus 2026, di Pujamar, Jalan Raya Cikajang, Kampung Sukadana, Desa Cikajang, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Kegiatan ini menjadi penegasan arah gerakan Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut yang selama ini mendorong agar agenda lingkungan tidak berhenti pada kegiatan seremonial seperti penanaman pohon.

Konservasi harus memberikan manfaat ekologis sekaligus membuka ruang peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Melalui pendekatan agroforestri, tanaman kopi dapat dikembangkan di bawah tegakan dengan tetap mempertahankan fungsi ekologis kawasan. Dengan demikian, masyarakat memperoleh manfaat ekonomi tanpa harus mengorbankan keberadaan pohon dan fungsi perlindungan hutan.

Ketua Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut H. Jaeni menegaskan bahwa arah gerakan Kolaborasi Hijau adalah membangun ekosistem kolaborasi yang mempertemukan kepentingan lingkungan dengan kebutuhan masyarakat.

“Kami ingin mengubah cara pandang bahwa konservasi bukan hanya tentang menanam pohon. Konservasi juga harus bicara tentang manusia yang berada di dalam dan sekitar kawasan. Kalau masyarakat memiliki keterampilan dan sumber ekonomi yang berkelanjutan, maka mereka akan memiliki alasan yang semakin kuat untuk menjaga lingkungannya,” ungkap H. Jaeni.

Menurutnya, kopi menjadi salah satu komoditas yang sangat potensial dikembangkan melalui pendekatan agroforestri, khususnya di wilayah Cikajang dan kawasan sekitar Gunung.

Karena itu, peningkatan kapasitas petani menjadi bagian penting dari agenda Kolaborasi Hijau.

Pelatihan bersama BPVP Bandung Barat tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan teknis budidaya kopi, tetapi juga menjawab kebutuhan nyata masyarakat di lapangan.

Peserta mendapatkan penguatan kompetensi mulai dari pemeliharaan tanaman, penerapan budidaya yang baik, pengelolaan produksi, hingga pemanfaatan hasil kopi untuk meningkatkan nilai ekonomi.

PIC kegiatan sekaligus Kepala Divisi Pembibitan Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, Papan Rohmat, mengatakan bahwa peningkatan kompetensi masyarakat merupakan bagian penting dari keberlanjutan program lingkungan.

“Kami ingin peserta memiliki kemampuan yang benar-benar bisa diterapkan di lapangan. Jangan sampai pelatihan hanya berhenti pada teori. Pengetahuan yang diperoleh harus menjadi keterampilan, keterampilan harus menjadi produktivitas, dan produktivitas pada akhirnya harus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” kata Papan Rohmat.

Ia menilai pendekatan agroforestri memberikan peluang besar untuk mempertemukan tiga kepentingan sekaligus, yakni kelestarian hutan, produktivitas lahan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Kita tidak sedang memilih antara hutan atau ekonomi. Justru kita sedang membangun model bagaimana hutan tetap terjaga dan masyarakat tetap mendapatkan manfaat ekonomi dari pengelolaan yang benar,” tambahnya.

Bagi Kolaborasi Hijau, tanaman kopi dalam sistem agroforestri bukan sekadar komoditas.

Kopi dapat menjadi bagian dari strategi membangun ekonomi hijau berbasis masyarakat, sekaligus mendorong perubahan perilaku dalam pengelolaan kawasan.

Ketika kualitas tanaman meningkat, produktivitas membaik, pengolahan semakin baik, dan nilai jual meningkat, maka masyarakat memiliki peluang ekonomi yang lebih kuat tanpa harus melakukan eksploitasi lahan secara berlebihan.

Di sinilah pelatihan vokasi tersebut memiliki makna lebih luas. Masyarakat tidak hanya diajarkan cara menghasilkan kopi, tetapi juga diajak memahami bagaimana menghasilkan kopi tanpa kehilangan fungsi ekologis hutan.

Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut menargetkan sinergi seperti ini dapat terus dikembangkan.

Papan Rohmat mengungkapkan bahwa pihaknya berencana kembali mendorong pelaksanaan kegiatan serupa pada tahun 2026 dengan jumlah peserta yang lebih besar.

“Harapannya, masih di tahun ini kami dapat kembali menggelar kegiatan yang sama dengan peserta yang lebih banyak. Target kami minimal tiga paket pelatihan, sehingga dampaknya tidak hanya dirasakan oleh 16 peserta hari ini, tetapi bisa menjangkau lebih banyak petani dan generasi muda,” jelasnya.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut sedang mendorong pola gerakan yang lebih luas dari aksi lapangan menuju penguatan kapasitas masyarakat.

Jika penanaman adalah awal dari pemulihan lingkungan, maka pengetahuan dan keterampilan adalah modal untuk memastikan pemulihan itu bertahan dalam jangka panjang.

Dengan demikian, Kolaborasi Hijau tidak hanya hadir sebagai gerakan yang mengajak masyarakat menanam pohon, tetapi juga membangun kolaborasi agar masyarakat mampu merawat, mengelola, memanfaatkan, dan menjaga kawasan secara berkelanjutan.

Sebab hutan yang lestari membutuhkan masyarakat yang berdaya. Dan masyarakat yang berdaya membutuhkan pengetahuan, keterampilan, serta ekonomi yang berjalan seiring dengan konservasi.

Sinergi Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, Kelompok Tani Kopi Cikuray dan BPVP Bandung Barat menjadi salah satu contoh bahwa gerakan lingkungan dapat berkembang menjadi gerakan pemberdayaan.

Menanam pohon adalah aksi. Merawatnya adalah tanggung jawab. Memberdayakan masyarakat adalah keberlanjutan. Dan di situlah Kolaborasi Hijau mengambil perannya.

Diakhir, Panpan Rohmat menyampaikan satu kalimat motivasi yaitu Dari Tanam Menjadi Tumbuh. Dari Aksi Menjadi Tradisi.
Dari Konservasi Menjadi Kemandirian.

Ditulis oleh:
Cepi Gantina